Langsung ke konten utama

Maghribnya Sang Pendosa

Gema adzan berkumandang dari sudut surau,
Mengabarkan aku jika Tuhan masih menunggu,
Diriku yang penuh dosa ini untuk bersujud memohon ampunan dari Khaliq-Nya.

Sedangkan aku,
Masih terlena akan kesibukan dunia yang ada,
Bernafas dengan kemewahan yang fana,
Mengejar kebahagian semu semata,
Memuaskan nafsu birahi dari mata yang telah menutup hati,
Sampai akhirnya Tuhan hanya menertawakan aku sebagai hamba-Nya.

Melihat penuh keheranan darimana kebangaan itu ada,
Merasa diri ini jumawa dengan segalanya,
Nyatanya diri masih miskin limpahan rahmat dari-Nya.

Perlahan senja menghilang dari cakrawala,
Gema adzan berkumandang dari surau yang tampak tak bernyawa,
Sepi terlintas dari pandang makhluk fana,
Hanya terlihat kakek tua berdiri dengan khusuknya,
Seolah mengejek aku yang muda dengan bangganya,
Tak ada waktu untuk sekedar berbaris dan bersujud kepada Sang Khaliq bersama dirinya.

Nyatanya aku hanya termenung dalam kesendirian,
Meratap akan semua perbuatan yang telah aku lakukan,
Perjuangan semu untuk mengejar nafsu,
Tak ada habisnya dalam kepalsuan,
Menjalani hidup penuh dengan sandiwara kebahagiaan.

•MgilangDL•

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Cemburu

Aku cemburu dengan malammu, Karena malamku selalu mengharapkan hadirmu, Sedangkan malammu selalu ditemani oleh dia yang kau rindu. Aku cemburu dengan pagimu, Karena pagiku masih saja merindukan dirimu, Sedangkan pagimu selalu bercengkrama mesra dengan dirinya. Aku cemburu dengan senjamu, Karena dalam senjaku selalu terbayang dirimu, Sedangkan dalam sejamu selalu indah ditemani hangat cintanya. Tapi bisa apa aku dengan cemburuku? Karena cemburuku bukan hal yang penting untukmu, Cemburuku hanya penghalang aku dekat denganmu. Aku hanya bisa menuangkan cemburuku dalam tulisan usang yang tak mungkin kamu tau, Dan disitulah aku bisa meluapkan semuanya, Seolah duniaku hanya ada kamu dan setumpuk coretan tentang dirimu. •MgilangDL•

Gelap

Tatkala malam naik ke tahtanya, Hanya gelap yang terlihat dalam visi manusia, Tanpa ada cahaya yang mendamba, Seolah mata menjadi buta seketika.  Manusia berkeliaran tanpa ada arah panduan,  Mencari, meraba, seolah semua yang dituju kehilangan makna, Mereka tersesat dalam siklus yang tak bisa lagi diduga, Hanya bermodal harapan esok akan ada cahaya.  Oh Tuhan yang melihat dalam segalanya, Tanpa ada batasan gelap dan cahaya,  Bimbing mereka dan juga hamba,  Makhluk tersesat dalam gelapnya malam gulita,  Yang tak lelah untuk sekedar mencari seberkas cahaya. Oh Tuhan yang maha tahu akan segala hal, Tanpa ada batasan halangan akal, Beri hamba dan mereka yang masih bertanya dengan jawaban yang tak pernah bisa kehilangan makna, Entah dalam tandamu atau dalam suratanmu. Hamba buta, hamba bodoh, dan hamba tak bisa keluar dalam siklus neraka ini, Mencari apa yang tak bisa hamba temui dan bertanya tentang apa yang tak bisa hamba dapatkan jawabannya. Pandangan hamba m...

Bolehkah Tuhan?

Tuhan bolehkah aku lelah? Menjalani kehidupan yang mulai tak terarah, Merasa diri ini sudah lemah, Dan hanya tinggal menunggu ajal datang menyapa ramah. Tuhan bolehkah aku pulang? Kembali kepangkuan dari pemilik semesta alam? Atau Engkau masih percaya aku mampu bertahan, Menjalani semua sampai takdir berkata aku harus pulang. Tuhan jika memang aku masih harus disini, Meratapi hari dengan kejenuhan yang tak berarti, Maka buatlah diri ini menjadi sosok yang kuat dan tak akan mau berlari, Buatlah diri ini menjadi pribadi yang mampu menatap semuanya dan melangkah maju menghancurkan segala ambisi. Tuhan aku hanya ingin pergi, Tapi jika memang aku tak bisa untuk pergi ijinkan aku untuk menepi, Menyiapkan diri menjalani hari, Sampai nanti bahagia akan datang mengantri. Tuhan semoga aku bisa terus menjalani hari, Mengikhlaskan semua rasa sakit yang terpatri dihati, Dan kelak akan ada orang yang menggantinya dengan kebahagiaan yang sangat berati. Semoga Tuhan. •MgilangDL•