Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2020

Rasaku Kini

Sudah lama aku tak mendengar kabar cerita, Tentang kamu yang sedang aku cinta, Namun, kini cinta hilang entah kemana? Tapi rasa tak bisa lepas dalam bayang senja. Hei nona yang dulu sempat bercakap ria, Bertanya kabar, bertukar cerita, dan berkhayal tentang asa disaat kita menua bersama, Bagaimana kabarmu disana? Apa kau sudah lupa dengan aku yang biasa-biasa saja? Atau kau memang tak memiliki rasa disaat kita sedang bersama? Sedangkan aku? Ah, sudahlah. Toh aku hanya bisa menjaga, Sampai nanti rasa akan hilang dengan sewajarnya, Namun kenangan akan selalu terpatri didalam sana, Didalam sudut hati yang nanti menjadi tawa,  lalu, akan kubilang sebagai 'cerita bodohnya rasa'. Aku sadar, aku juga mengerti. Terkadang, cinta hadir hanya untuk menjadi penggembira asa, Menyemangati hati yang sudah lama merasa sepi, Menyadarkan diri bahwa aku tidak sendiri, Masih ada engkau yang bisa menjadi penenang dan penyemangat hati. Tapi mungkin tuhan berkata lain, Kita berpisah dengan cara yang ...

Bangkit

Fajar telah terbit kembali, Bayang semu telah bangkit lagi, Dan asa kembali tercipta dalam lamunan sang nestapa. Bagai kemarau yang tak berkesudahan, Hujan semalam menghapus segala kegelisahan, Menumbuhkan benih harapan, Untuk aku yang terpuruk dalam lamunan. Oh Tuhan, Inikah teguran yang Engkau berikan, Atau candaan tatkala Engkau bosan melihat aku yang tak ada perubahan, Bergumul dengan setiap angan, Tak bisa melangkah menjalani setiap kesempatan. Oh Tuhan, Aku baru saja ingin bangkit, Melihat secercah harapan yang ingin selalu aku kait, Tak ingin aku lepas walau sedetik, Tapi nyatanya yang ku genggam bukanlah hal yang baik, Karena itu telah menghilang barang sedetik, Meninggalkan aku yang linglung dan bingung, Entah harus tertawa atau menangis dalam nestapa yang ada. Oh Tuhan, Berikan aku sedikit kesempatan, Untuk kembali menggenggam harapan, Tatkala hidupku sudah terjebak dalam jurang kegelapan, Mencari segala yang bisa aku cari, Meraih segala yang bisa aku raih, Dan berjuang denga...

Terjebak Rasa

Aku lelah, Aku masih lemah, Terus terjebak dalam kenangan, Menahan rindu yang tak berkesudahan, Menelan pahitnya rasa yang tak akan menjadi nyata. Aku tak bisa bangkit, Aku masih terbaring dalam rasa sakit, Menunggu dia yang hilang entah kemana, Menjaga cinta yang kini telah kehilangan makna. Aku layaknya tuan bodoh yang egois, Padahal aku tau jika dia tak akan lagi menyapa, Tapi aku masih setia melihat layar putih yang telah kehilangan nyawa, Berharap jika dia akan kembali berkata 'hai' lalu kita bisa berceloteh tentang kabar. Nyatanya, dia tak ada! Dia lupa akan diriku yang hina, Tuan bodoh karena harapan fana, Yang telah jatuh ke dalam lubang nestapa, Meratap nasib yang perlahan kehilangan cinta. Hei kau yang dulu aku puja! Tengoklah sebentar aku yang kini merana, Berkhayal tentang cinta yang sempurna, Tapi nyatanya, semua hanya kepalsuan yang telah kau siapkan sejak pertama. •MgilangDL•

Singgah

Hey tuan, Tak bisakah kau sejenak untuk menepi, Menyecap kopi yang sudah hamba buat sejak pagi, Membicarakan sajak yang tak bisa hamba sudahi. Hey tuan, Terkadang pikiran tak bisa hamba kendalikan, Terlalu memaksa untuk diri ini bertahan, Padahal mulut sudah tak kuasa menahan, Dan jari sudah ingin untuk menari tak berkesudahan. Singgahlah sejenak tuan, Membicarakan hal yang selalu mengganggu kehidupan, Mengurangi beban yang lama tak bisa hamba keluarkan. Menambah kelapangan hati yang lama dalam kesempitan. Lalu kemanakah kini kau akan pergi tuan? Setelah sejenak singgah di pagi hari yang lama hamba dambakan, Ketenangan yang lama sudah tak lagi hamba rasakan, Sejenak bisa kembali hamba dapatkan. •MgilangDL•

Nak

Tetiba hati tenang mendengar suaramu, Diri merasa damai melihat wajah polosmu, Dan aku merasa bersyukur saat tahu kalau kamu baik-baik saja. Hilang sudah rasa sakit yang aku derita tadi, Hilang sudah perasaan khawatir dan takut yang dulu hinggap dalam hati, Berganti perasaan bahagia karena hadirnya dirimu dan rasa bersyukur karena Tuhan menitipkanmu kepadaku. Nak, Tangismu adalah melodi kehidupanku, Yang akan selalu ku nikmati dan menjadi obat penenang diri. •MgilangDL•

Nestapa

Rinduku hanyalah rindu yang tak bisa menjadi temu, Rasaku hanyalah rasa yang enggan untuk menjadi nyata, Dan kamu hanyalah imaji yang selalu aku nikmati dalam mimpi. Diri mulai tersadar dari indahnya khayalan selama ini, Melepas kekang yang dulu selalu aku harapkan, Dan kini menjadi parasit dalam kehidupan. Tolong kembali lah tuan logika, Usir lah nyonya rasa yang selalu hinggap dalam malam penuh nestapa, Toh aku, hanya punya engkau dan dia, Ketika kau tiada, dia pun mengambil alih dan memerintah dengan suka-suka. Dan kau si pemicu api dalam jerami yang kering ini, Apakah sulit bagimu hanya untuk sekedar mengerti, Jikalau jerami ini adalah tumpukan rumput kering yang sudah lama tak tersiram air hujan. Pantaslah kini semua habis telah hangus dimakan api, Semua berasa cepat dan seolah hanya adegan dalam mimpi, Karena dalam bangun ku kini, Kau telah pergi dan hanya melihatku sebagai kepingan kecil kehidupan kini. •MgilangDL•

Senjamu Menyapa

Hey Nona, Senjamu kini telah menyapa, Membawa segurat rasa cinta, Dan jua meninggalkan sejuta kesan yang bermakna. Hey Nona, Senjamu kini berkurang jua, Mungkin hanya tinggal tersisa beberapa, Toh, hanya Tuhan yang tau semua. Lalu, Apa yang akan engkau bawa nona? Selain baik dan buruknya hidup di dunia. Hey Nona, Sudah lama pula engkau berkelana, Menghabiskan beribu senja dan menyisakan pengalaman untuk tetap berjalan pada batas-Nya. Kini waktumu telah tiba, Pilihanmu terpampang nyata, Pada senja yang sekarang apakah kau akan tetap sama? Atau malah berbalik dan memulai semua dengan keyakinan yang nyata. •MgilangDL•

Kau

Riuh orang membicarakanmu dengan senang, Bagiku dan bagi mereka kau adalah Mahakarya Sang Pencipta untuk hamba-Nya. Dalam setiap guratan wajahmu memperlihatkan keteguhan, Lentik jemarimu menunjukan keanggunan dan kasih sayang, Dan setiap lekuk tubuhmu merupakan manifestasi dari keindahan, Lalu, sikap serta tutur bicaramu menunjukan kelembutan dan ketegasan. Kau adalah sosok yang paling mulia bagiku, Sedangkan aku? Aku hanyalah pengagum hina yang berandai untuk selalu bisa melihat dirimu. •MgilangDL•

Senjaku

Senjaku tiba-tiba saja datang, Ia menyapa hanya untuk mengingatkan, Kemudian pergi sembari bilang bahwa kini aku telah berkurang. Senjaku tak dapat lagi ku ulang, Aku hanya bisa pasrah mengikuti jalannya kehidupan, Dan diri tetap mencoba berusaha dan terus berjuang. Senjaku pergi untuk menyapa dikemudian hari, Mengingatkan diri apa masih berdiam atau bergerak barang satu mili, Mencoret kertas yang hampir tertutup oleh tinta yang tak jelas, Sembari menanyakan diri tentang apa yang akan kujalani nanti. Lalu diri hanya bisa berucap dalam hati, Meminta kepada Sang Penulis Takdir untuk tetap bisa melangkah dalam kehidupan fana ini, Dan terus berusaha untuk mempersiapkan kelak kehidupan yang abadi. Terimakasih senjaku karena engkau masih mau kembali, Dan semoga esok atau lusa aku masih bisa mendengar sapaanmu dalam kehidupan ini. •MgilangDL•

Semesta

Hallo semesta,  Aku tau engkau ada, melihat dan mendengar setiap langkahku dalam do'a, menjaga dan memelihara setiap asaku dalam aksara buta.  Hallo semesta, Aku bingung dengan asaku kini,  Aku terjebak dalam lamunanku sendiri,  Berharap semua baik namun nyatanya terbalik,  Hallo semesta,  Aku tak tahu yang baik itu seperti apa,  Apa asa yang ada dalam setiap do'a,  Atau suratan yang telah engkau gariskan dalam keawalan segalanya. •MgilangDL•

Terlambat

Berpikir jauh untuk kembali, namun nyatanya kaki masih ingin melangkah pergi,  entah kemana diri ini kan dibawa pergi?  Aku hanya bisa pasrah mengikuti. Seolah logika tak lagi berfungsi,  nalar terkalahkan oleh rasa yang tak bisa dibendung lagi, mengharapkan dia untuk datang menghampiri,  tapi ternyata dia hanya menyapa untuk pergi kembali. Lalu, Hanya bisa mengutuki diri dengan kekonyolan tingkah selama ini,  padahal nyatanya itu pilihan yang dulu ku anggap pasti, setelah semesta menunjukan kuasa akan segala perjalanan ini,  ku hanya bisa termenung dan pasrah menyesali. •MgilangDL•

Aku Cemburu

Aku cemburu dengan malammu, Karena malamku selalu mengharapkan hadirmu, Sedangkan malammu selalu ditemani oleh dia yang kau rindu. Aku cemburu dengan pagimu, Karena pagiku masih saja merindukan dirimu, Sedangkan pagimu selalu bercengkrama mesra dengan dirinya. Aku cemburu dengan senjamu, Karena dalam senjaku selalu terbayang dirimu, Sedangkan dalam sejamu selalu indah ditemani hangat cintanya. Tapi bisa apa aku dengan cemburuku? Karena cemburuku bukan hal yang penting untukmu, Cemburuku hanya penghalang aku dekat denganmu. Aku hanya bisa menuangkan cemburuku dalam tulisan usang yang tak mungkin kamu tau, Dan disitulah aku bisa meluapkan semuanya, Seolah duniaku hanya ada kamu dan setumpuk coretan tentang dirimu. •MgilangDL•

Nona

Hey Nona, Wajahmu cantik bak Edelweiss langka, Senyummu hangat laksana fajar dan senja, Dan tawamu indah bagai pualam yang tiada dua. Siapa gerangan kau nona? Padahal saya hanya sekilas melihat anda, Tapi dunia seolah menjadi berbeda, Dalam khayal dan pikir hanya ada bayang semu saja. Hey nona, Siapa kau pemilik nama? Aku hanya ingin sekali mendengar saja, Untuk menggenapkan rasa yang tetiba ada, Tanpa maksud ingin mengungkapkan wujud nyatanya. •MgilangDL•

Cinta

Aku tak tau apa arti dari dirimu, Hanya satu kata namun memiliki ribuan makna yang ada. Cinta, Aku tak tau seperti apa sosok dirimu, Namun ketika engkau hinggap seolah dunia mendadak buta. Cinta, Entah perjuangan seperti apa yang harus aku rasa, Seolah kesedihan dan penderitaan hanya sebagai sajian pembuka. Lalu, Apa makna cinta yang sebenarnya ada? Apa hanya sebatas berbagi rasa, atau berjuang bersama menggapai asa yang ada? Cinta, Aku harap kamu ada, Disaat aku membutuhkan asa, Bukan sebagai pelampiasan semata, Tapi untuk penyemangat kehidupan yang nyata. Cinta, Apakah kau nyata membuat orang bahagia? Atau hanya sekedar oasis dalam nestapa? •MgilangDL•

Bolehkah Tuhan?

Tuhan bolehkah aku lelah? Menjalani kehidupan yang mulai tak terarah, Merasa diri ini sudah lemah, Dan hanya tinggal menunggu ajal datang menyapa ramah. Tuhan bolehkah aku pulang? Kembali kepangkuan dari pemilik semesta alam? Atau Engkau masih percaya aku mampu bertahan, Menjalani semua sampai takdir berkata aku harus pulang. Tuhan jika memang aku masih harus disini, Meratapi hari dengan kejenuhan yang tak berarti, Maka buatlah diri ini menjadi sosok yang kuat dan tak akan mau berlari, Buatlah diri ini menjadi pribadi yang mampu menatap semuanya dan melangkah maju menghancurkan segala ambisi. Tuhan aku hanya ingin pergi, Tapi jika memang aku tak bisa untuk pergi ijinkan aku untuk menepi, Menyiapkan diri menjalani hari, Sampai nanti bahagia akan datang mengantri. Tuhan semoga aku bisa terus menjalani hari, Mengikhlaskan semua rasa sakit yang terpatri dihati, Dan kelak akan ada orang yang menggantinya dengan kebahagiaan yang sangat berati. Semoga Tuhan. •MgilangDL•

Hujan

Kini alam seolah tak berteman, Menentang hasrat yang sudah tak tertahan, Hasrat diri menantikan hujan, Yang lama tak kunjung datang. Hey alam, Aku hanya meminta hujan, Bukan kemarau yang tak berkesudahan, Sesulit itukah mengabulkan permintaan? Padahal diri ini sudah tak beralasan. Hey alam, Aku ingin membasahi diri dengan guyuran, Menyembunyikan hati yang tak kuasa menahan tangisan, Tangisan akan sebuah kenangan, Yang tak akan pernah bisa terulang. •MgilangDL•

Amnesia

Hati seolah ingin berseru, Bahwasannya aku masih rindu, Rindu akan sesuatu yang dulu, Yang entah seperti apa itu. Kenangan terus menyapa, Melayang dan hinggap dimata, Entah mata yang mana, Namun diri seolah tak bermakna. Apa gerangan yang terjadi? Diri ini seolah mati, Tertikam rasa yang tak berarti, Dan itu sangat tak manusiawi. Siapakah engkau rindu? Sungguh aku lupa sosok dirimu, Apakah kau nyata atau hanya sebatas halu, Diri ini masih kekurangan ilmu. Lalu siapakah engkau kenangan?? Diri ini sangat tak bisa tenang, Merasa engkau telah menang, Nyatanya diri ini hanya kehilangan. •MgilangDL•

Maaf

Aku sangat iri ketika mendengar kamu bisa merindukan dia, Aku sangat iri ketika melihat kamu menangis saat mengenang masa-masa indah dengan dia. Sepertinya memang aku hadir disaat yang tidak tepat, Aku hadir disaat kau butuh sosok pendukung, bukan sosok pendamping, Karena kini terlihat jelas jika sosok pendamping itu masih ada dalam dirinya. Jujur, Rasa sesak menghampiri diri ini ketika kau menceritakan semua keresahanmu, Rasa sesak semakin menjadi saat ku tahu ternyata keresahan itu tentang merindukan dirinya, Dan rasa sesak ini tak bisa lagi aku tahan ketika mendengar jika kau masih mencintainya. Lalu, Apalah arti diriku yang sangat jauh dari apa yang kau harapkan, sangat jauh dari apa yang kamu impikan dan bayangkan selama ini, Bahkan mungkin diriku hanya bisa membuatmu merasa lelah dan tak nyaman menjalani hubungan dengan ku. Maafkan aku, Maafkan diriku jika tak bisa menjadi sosok yang kamu harapkan, Maafkan diriku jika hanya membuatmu lelah dan tak nyaman dengan hubungan kita. Dan...

Kamu

Kamu adalah sebuah impian yang dulu aku inginkan, Kamu adalah sebuah ambisi hidup yang dulu aku perjuangkan, Kamu adalah sebuah injeksi semangat yang dulu selalu aku butuhkan. Namun itu dulu, Sebelum aku merasa lelah dengan impian itu sendiri, Sebelum aku merasa ambisiku hanya ego yang tak pernah bisa aku akhiri, Sebelum aku merasa injeksi itu menjadi racun yang akhirnya menghempaskan aku kembali. Kini semua berubah, Aku kembali menjadi sosok yang takut akan bermimpi, Aku kembali menjadi sosok yang kehilangan arah dalam berambisi, Aku kembali menjadi sosok yang bangun dan akhirnya tidur kembali. Selamat tinggal untuk kamu, Terimakasih karena pernah hadir dan kini kembali pergi, Terimakasih karena pernah singgah memberi warna baru dalam hidupku, Terimakasih karena warna itu akan terpatri dalam relung hatiku. Kini saatnya aku kembali, Kini saatnya aku bangun dari tidur panjang ku, Kenanganmu akan selalu hadir mewarnai setiap lamunanku, Dan dirimu akan selalu aku do'akan dalam setiap ...